Header Ads

Novel Mimbar Kepemimpinan ( Bab Dua )




BAB 2
LPMS

            Hari ini hari pertama kami mengikuti seleksi penerimaan anggota HIPISA yang baru. Sebelumnya kemarin kami telah dikumpulkan terlebih dahulu dan diberitahu tentang hal-hal apa saja yang harus kami persiapkan untuk hari ini. Saat technical meeting itu kami diberitahu agar besok kami harus datang pukul dua siang dan tidak boleh telat sedetikpun. Kami diwajibkan mengenakan baju muslim dan celana kain panjang, lalu mengenakan kain sarung diluarnya. Kemudian kami juga mengenakan karton yang telah dipotong sedemikian rupa sehingga membentuk pakaian zaman firaun, yang menutup kedua bahu kami. Karton tersebut dibagian depannya telah diberi nama sahabat Rasulullah yang ditulis dengan huruf kapital sedangkan dibagian belakangnya ditulis nama asli dengan huruf kecil. Saat itu aku memilih menggunakan nama sahabat Saad bin Abi Waqash karena aku terinspirasi dengan keberanian dan keteguhannya. Kami juga diwajibkan memakai sorban dan memegang tasbih.

Tepat pukul dua kurang sepuluh menit aku dan teman-teman smpku, Abi, Ape, dan Balsa tiba kesekolah. Sebelumnya kami telah sepakat agar datang kesekolah bersama-sama hari ini. Segera kami percepat langkah menuju mushala agar tidak terlambat. Sesampai kami di mushala kulihat telah ada beberapa orang yang kulihat dari pakaian yang mereka pakai sama seperti kami mengartikan kalau mereka juga ikut seleksi hari ini. Ada beberapa orang yang duduk di teras mushala dan ada juga yang duduk di dalam mushala. Segera ku copot sandalku dan masuk kedalam mushala itu.

Aduhai, ada perasaan berbeda ketika aku masuk kedalam mushala itu. Sekilas mushala itu tampak seperti mushala-mushala biasa di luar sana. Tapi, aku merasakan ada hal yang sangat luar biasa dari mushala ini. Semangatku seakan terpercik api membara dan mulai terbakar. Rasa penasaranku terhadap HIPISA, mushala ini, dan orang-orang dari HIPISA itu semakin besar dan ingin meledak. Namun aku tahan. Aku yakin semua rasa penasaranku akan mendapat jawabannya nanti.

Kulihat disekeliling ruangan mushala itu. Selama aku masuk sekolah ini, baru kali ini aku masuk kedalam mushala ini. Biasanya saat istirahat aku agak malas jauh-jauh dari kelasku dan mushala ini jaraknya lumayan jauh dari kelasku. Menurutku lebih baik kekantin saja. Perjalanan dari kelas kekantin dan kembali lagi kekelas menurutku sudah memakan setengah jam istirahat, belum lagi aku makan dan istirahat akan memakan setengah sisa jam istirahat. Aktivitasku itu menurutku sangat padat dan tidak ada waktu kemushala ini. Tapi sekarang, rasanya rugi kalau tidak mampir kemushala ini.

Kulihat gambar-gambar didinding mushala itu. Kulihat banyak lukisan kaligrafi yang unik dan bagus. Kuperhatikan lebih dekat dan kulihat nama Safwan kamal tercantum di bawah lukisan kaligrafi itu. Sungguh takjubnya diriku. Aku tak menyangka orang yang kukenal bernama Safwan Kamal itu seorang yang multi talenta. Ia bisa membuat lukisan kaligrafi sebagus itu.

Disaat aku memutar mata melihat kaligrafi itu, perhatianku berhenti tepat di sebuah pintu sebuah ruangan di dalam mushala itu. Di pintu itu tertulis “Sekretariat HIPISA”. Dibawahnya banyak stiker-stiker yang ditempel. Kuperhatikan satu-satu. Semuanya tentang acara-acara islami berlogo HIPISA. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang membuka pintu dari dalam ruangan itu. Ia menatapku sangat dalam dan dingin. Lalu ia keluar dan menutup kembali ruangan itu. Ia pun pergi keluar mushala. Hanya sedikit yang bisa kulihat dari celah pintu yang ia buka tadi dan itupun tidak lama. Aku jadi penasaran dengan isi ruangan itu.

Akupun kembali ketempat Ape dan Abi berkumpul. Kulihat disekelilingku orang-orang ikut seleksi hari ini. Perhatianku  berhenti pada seorang lelaki berkacamata. Tubuhnya agak kurus dan sedikit lebih tinggi dariku. Ia bersama teman-temannya sedang bercanda-canda dan saling menertawakan penampilan mereka. Entah kenapa aku merasakan ada yang berbeda dari dirinya, namun aku tidak begitu memperdulikan hal itu.

“hei lan, masih kenal dengan dia?” Ucap Ape sambil menunjukkan kearah temannya.
“Sebentar…”ucapku sambil mencoba mengingat wajahnya. Wajahnya terasa tidak asing dan sepertinya ini tidak kali pertamanya aku melihat wajahnya.
“Ini teman satu SD kita dulu, namanya Syahrul” ucap Abi mengingatkanku.
“oh, ya, ya..aku baru ingat. Syahrul rupanya. Hampir aja aku lupa tadi rul.” Ucapku baru sadar.
“Hahaha lan, orang penting kayak gini kok sampai lupa.?” Ucap syahrul.
Tiba-tiba beberapa orang dari senior HIPISA menyuruh kami untuk segera menuju ke Aula karena acara pembukaan akan segera dimulai. Kami pun menghentikan pembicaraan kami dan menuju ke Aula yang dituju.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, acara pembukaan Latihan Pembinaan Mental dan Sikap atau LPMS akan segera dimulai. Pembacaan ayat suci Alquran oleh saudara…”

“LPMS?” pikirku dalam hati setelah mendengarkan moderator membuka acara. Barulah kutahu kegiatan kami hari ini namanya LPMS, Latihan Pembinaan Mental Dan Sikap.

Disaat pembacaan ayat suci alquran, aku melihat disekelilingku. Banyak orang yang belum kukenal. Dideretan kursi paling depan kulihat dua orang yang duduk bersampingan dan hanya mereka berdua yang duduk sedangkan dideretan kedua hingga deretan kursi terakhir kami-kami lah anak-anak baru yang memenuhinya.Dari penampilan mereka bisa kuduga kalau mereka anak-anak kelas dua. Tapi yang mengherankan kemana anak kelas dua yang lain? Apakah hanya mereka anggota HIPISA kelas dua? Dibagian wanitanya aku tidak begitu memperhatikan, tetapi kalau dibagian prianya hanya ada dua orang itu yang patut dipertanyakan. 

Setelah serangkaian acara pembukaan acara LPMS secara formal  dilaksanakan dan diakhiri dengan dibukanya acara oleh bapak kepala sekolah SMAN 1 Langsa itu, akhirnya acara LPMS kami pun resmi dibuka. Setelah kepala sekolah dan tamu-tamu undangan lainnya beranjak dari kursi mereka dan keluar dari ruangan aula, beberapa orang senior HIPISA segera mengambil alih microphone dan mulai menginstruksikan kami untuk segera memakai seluruh atribut yang telah di persiapkan sebelumnya. Inilah awal LPMS dimulai.

Disaat kami sibuk memakai atribut, datanglah seorang lelaki dari luar aula dan menuju ke atas panggung. Ia menyuruh kami untuk segera membawa perlengkapan kami menuju ke taman terbuka hijau. disana kami duduk di bawah pohon yang rindang dengan semilir angin sepoi-sepoi.

Setelah itu lelaki itu duduk didepan menghadap kami dan menyuruh kami untuk menyiapkan buku dan alat tulis.

“Keluarkan buku dan alat tulis kalian, dik. Cepat! cepat!.setelah ini kami akan membacakan peraturan peserta LPMS dan sejarah tentang HIPISA. Semuahnya tolong dicatat!” serunya.

Akupun mulai membuka bukuku. Disaat aku menunggu untuk mulai menulis, kulihat wanita-wanita duduk dibagian sebelah kiri kami. Atribut mereka lebih konyol dari atribut yang kami pakai. Dengan pakaian muslim, mereka memakai selendang yang dibuat dari karton dan di pasang dari bahu dan turun ke pinggang, seperti selendang yang dipakai dalam ajang putri Indonesia. Dibagian depannya ditulis nama wanita pada zaman Rasulullah dengan huruf kapital dan dibagian belakangnya ditulis nama mereka dengan huruf yang kecil. Lalu mereka juga memakai kacamata yang jenisnya berbeda beda, ada yang memakai kacamata hitam, kacamata yang kacanya telah hilang, kacamata robot dan kacamata-kacamata aneh lainnya. Dikepala mereka juga dipakaikan topi berbentuk kerucut yang dibuat dari karton. Kaki dan Tangan mereka pun tidak lepas dari kaos kaki dan tangan. Tidak ada satupun diantara mereka yang kukenali. Bagiku penampilan mereka Nampak sama semuanya.

“Sebelumnya sudah ada yang mengenal kami dik?” seru senior HIPISA itu.
“Belum kak!” sahut kami semuanya.
“Kalau begitu sebelum kami membacakan peraturan perserta LPMS, terlebih dahulu kami akan memperkenalkan diri kami. Mungkin abang yang pertama ya. Nama abang Azandi, abang di HIPISA menjabat sebagai wakil ketua satu bidang pengkaderan.” Ucap abang yang telah kuketahui namanya Azandi itu.

Selanjutnya beberapa orang senior lain juga memperkenalkan diri mereka hingga tiba pada seorang lelaki yang aku jumpai di depan pintu secretariat mushala tadi.

“ Nama Aku Iqbal. Aku Di HIPISA menjabat sebagai ketua Media Dakwah HIPISA atau MEDHISA.” Ucapnya. Kulihat sekilas penampilannya berbeda dari senior-senior yang lain. Seluruh senior memakai celana dari bahan kain, dan hanya dia sendiri yang memakai celana dari bahan jeans dan itupun sempit dibagian bawah celananya. Melihat penampilan dan gayanya aku kurang menyukainya. Tidak sedikitpun ada nuansa HIPISA pada dirinya layaknya teman-teman seangkatannya di HIPISA.

Setelah semua senior memperkenalkan diri mereka baru aku sadar kalau bang safwan tidak hadir saat itu. Ingin rasanya aku bertanya tetapi rasanya aku tidak pantas karena hadir tidaknya bang safwan tidak mempengaruhi diriku yang saat itu adalah anak baru.

“Sebelumnya kami beritahukan sedikit kalau akhi safwan ketua umum HIPISA hari ini tidak bisa hadir bersama adik-adik sekalian karena beliau sedang sakit dan beliau mengucapkan salam untuk kalian.” Jelas bang Azandi.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Sahut kami semua.

“Baik, selanjutnya kami akan membacakan peraturan peserta LPMS. Peserta LPMS pria di sebut ikhwan dan peserta LPMS wanita disebut akhwat.”

Akupun menulis seluruh peraturan yang harus kami taati untuk seminggu kedepan. Banyak peraturan-peraturan yang menurutku baru ku dengar seperti ikhwan dan akhwat tadi, lalu peserta dilarang menggunakan bahasa daerah saat acara berlangsung dan apabila berjumpa sesama peserta wajib mengucapkan salam. Terdengar asing namun penasaran untuk dicoba.

            “Adik adik semuanya. Apabila kami bertanya apa kabar kalian hari ini? Maka kalian wajib menjawab : Alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat Allahu Akbar!, gimana bisa?” seru bang Azandi sambil mengangkat gumpalan tangannya keatas saat kata Allahu Akbar.

“Ayo kita Coba, Apa kabar semuanya?” ucap bang Azandi.
ALHAMDULILLAH LUAR BIASA TETAP SEMANGAT ALLAHU AKBAR!!” jawab kami semuanya dengan penuh semangat.
“ALLAHU AKBAR!!” balas bang Azandi lagi.
“ALLAHU AKBAR!!” jawab kami lagi.

            “Alhamdulillah. Selanjutnya akan abang serahkan ke bang Reza” ucapnya sambil menyerahkan microphone kepada bang reza yang kuketahui dari perkenalan tadi menjabat sebagai wakil ketua umum di HIPISA.

            “abang lihat hari ini nampaknya semangat semua kalian ya? Tapi abang gak tahu untuk besok dan seterusnya, abang harap kalian tetap semangat untuk menghadiri LPMS ini, karena kalian semua yang hadir hari ini belum tentu bisa lulus semuanya. Kami menilai kalian dari sikap dan kehadiran kalian. Untuk itu kalian harus bisa mengikuti LPMS ini sampai selesai. Paham semuanya?” jelas bang reza dengan tegas.

            “Paham!” jawab kami semuanya.

            “Jadi sebelum kalian tahu visimisi dan tujuan HIPISA lebih jauh, ada baiknya kalau abang menceritakan sedikit tentang sejarah terbentuknya HIPISA, karena HIPISA ini bukan langsung terbentuk sendirinya. HIPISA ini merupakan buah perjuangan dari abang-abang dan kakak-kakak kita pada zaman dulu.” Kata bang reza dengan semangat.

Ternyata benar dugaanku, HIPISA ini memang memiliki keunikan tersendiri daripada organisasi-organisasi yang lain yang ada di SMAN 1 ini. Segera ku persiapkan buku dan penaku untuk mulai mencatat sejarah terbentuknya HIPISA.

“Pada Pertengahan tahun 1987, di SMAN 1 Langsa ini hanya ada dua orang siswi yang berjilbab kesekolah. Walau di cemooh orang lain mereka tetap sabar. Walaupun hanya mereka berdua yang berjilbab saat itu, mereka tidak pernah saling berjumpa dan saling berjauhan. Lalu dua orang pemuda bernama Ishak dan Zulfan merasa tergerak hatinya untuk menyatukan mereka. Karena saat itu berjilbab adalah hal yang sangat tabu. Banyak orang yang saat itu meremehkan orang yang berjilbab dan ada dua orang yang mengenakan jilbab merupakan suatu awal dari perubahan. Zulfan dan Ishak mulai melihat perubahan itu dan segera menyusun rencana bagaimana caranya agar dapat menyatukan kedua siswi tersebut. Kemudian…”

Aku tertegun mendengar sejarah HIPISA itu. Ibarat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, perjuangan zulfan dan ishak sangat luar biasa. rasanya semangatku untuk berada di HIPISA semakin kuat dan entah kenapa aku ingin membangkitkan HIPISA.

Setelah itu Kami juga diberitahu tentang visi dan misi, tujuan serta penjelasan tentang HIPISA lainnya. Sampai akhirnya kami dikenalkan pada sebuah mars HIPISA.

“Coba kalian lihat mars HIPISA yang sudah kalian catat. Ayo kita sama-sama menyanyikan mars HIPISA ini. Achyar, maju kedepan dan nyanyikan lagu Mars HIPISA.” Kata bang Reza samba menunjuk salah seorang anak kelas dua dari barisan kami.

Anak kelas dua yang dipanggil dengan nama Achyar itu segera maju kedepan dan mulai menyanyikan mars HIPISA tanpa teks, sepertinya ia sudah menghafalnya.

“ MENGENANGKAN NASIB PARA JUNDI
TIAP HARI TERUS BELAJAR
KAMI MENINGGALKAN KEMEWAHAN,
KEMEWAHAN....
KAMI MAJU TERUS BERJUANG

JANGAN BERPUTUS ASA JUNDI JUNDI
BIAR TIDAKKAN MENANG....
WALAU MAYAT TERHAMPAR
DI MEDAN PERANG....
UNTUK ISLAM KAMI BERJUANG

HIDUP DI DUNIA TAKKANLAH LAMA
JANGAN SIAKAN MASA MUDAMU
DI HIPISA BERSAMA BERJIHAD,
HIPISA....
DEMI AKHIRAT YANG GEMILANG”

Kami pun sedikit demi sedikit mulai mengikuti lantunan irama Mars HIPISA yang di nyanyikan oleh bang Achyar. Jika di dengar dan diikuti dengan seksama lagu Mars itu lumayan enak untuk di nyanyikan. Setelah beberapa kali kami mengulang lagu itu, tidak terasa kami semua terbawa suasana seakan telah lama berada di HIPISA. Kami berburu semangat menyanyikan lagu itu, bahkan ada juga yang terlalu bersemangat hingga wajahnya jadi merah. Lagu itu membuat kami semua yang padahal belum saling mengenal seakan-akan tidak ada batasan untuk tertawa dan bergembira bersama. Itulah kekuatan mars HIPISA.

Lagu Mars itu masih terngiang ditelinga ku hingga sampai kerumah. Akupun sedikit demi sedikit menghafal bait perbait mars itu hingga akhirnya bisa menyanyikannya tanpa perlu melihat teks lagi. Akupun penasaran bagaimana kelanjutan serunya LPMS besok harinya. Kulihat Karton kuning yang kujadikan penutup bahu ketika LPMS tadi, sudah agak sedikit robek di bagian depannya. Mungkin karena aku terlalu banyak bergerak dan sering melepas dan memakainya lagi ketika LPMS membuat karton itu rusak. Akupun  memperbaikinya sedikit hingga akhirnya akupun terlelap di atas tempat tidur dengan lem yang semakin lama semakin mengeras dijari tanganku yang kugunakan untuk memperbaiki karton tadi.

Malam semakin larut ditemani cahaya bulan yang begitu mesra serta diiringi nyanyian jangkrik membuat suasana malam itu terasa tentram dan damai. Jiwa-jiwa yang berada dalam gengamanNya satu persatu telah terlelap untuk menghilangkan letihnya setelah seharian penuh beraktivitas. Hanya yang memenuhi kewajibannya sebagai muslim saja yang merasakan nikmatnya memejamkan mata malam itu karena ia telah menunaikan kewajibannya dengan bertemu Rabbnya pada waktu-waktu yang telah ditentukan serta diiringi dengan bacaan-bacaan Alquran yang membuat batinnya puas dengan hari yang telah dialaminya itu.
------------

 Mohon Komentarnya yaa :)

2 comments:

  1. wuih sangat menarik kang Aslan...
    ternyata nama saya uga ada.... :D

    LANJUTKAN!!!! :)

    ReplyDelete
  2. hahaha....

    makasiiih kang Syahrul...
    mungkin terdapat sedikit perbedaan dengan kisah asli dengan maksud memberi sedikit 'taste' dengan karakter 'syahrul' tersebut... :D

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^

Powered by Blogger.