Header Ads

Teman Paling Sabar





Aku memiliki seorang teman. Sungguh Allah telah memilihnya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar. Ia tidak pernah marah jika dihina kekurangannya dan juga tidak pernah menghina kekurangan orang lain. Terkadang hati ini pilu, ketika melihat orang-orang menghinanya seolah-olah penciptaan terhadap diri mereka telah lebih sempurna dibandingkan temanku itu. Kenapa kondisi fisik selalu dipermasalahkan?
Aku bersyukur memiliki teman-teman seperti itu. Dengan hadirnya mereka di hidupku, menjadikan mereka sebagai pengingat agar aku tidak kufur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Betapa banyak orang di luar sana yang kondisinya tidak sebaik yang telah Allah ciptakan kepadaku, namun aku masih juga merasa tidak bersyukur terhadap segala pemberianNya? Naudzubillah.
Memang manusia selalu diliputi rasa ketidakpuasan. Ketika melihat orang lain lebih, selalu saja terbesit ketidakadilan terhadap apa yang telah kita miliki saat ini. Kenapa sih dia bisa dapat itu sedangkan aku tidak? Kenapa sih dia diciptakan dengan wajah yang rupawan sedangkan aku buruk rupa? Kenapa sih dia bisa pintar sedangkan aku begitu bodoh? Kenapa? Kenapa? Beribu-ribu pertanyaan berdesakan menuntut jawaban.
Kawan, ketika semua pertanyaan itu terbesit di pikiran kita, janganlah kita terus melihat ke atas. Pernahkah engkau melihat orang yang nasibnya lebih buruk darimu? Dengan tubuh yang cacat, wajah yang buruk rupa, makan yang hanya sehari sekali, serta tempat tinggal yang tidak layak dihuni. Kenapa mereka masih tetap bertahan hidup? Apakah mereka pernah menuntutmu karena telah diberikan kelebihan oleh Allah dari pada mereka?
Cobalah lihat senyum di wajah mereka. Wajah tawadhu’ penuh keikhlasan. Mereka memasrahkan diri terhadap apa yang telah Allah gariskan kepada mereka. Namun kita sampai saat ini masih terus saja protes terhadap segala kekurangan kita? Bagaimana jika tiba-tiba Allah mencabut semua nikmat yang Allah berikan kepadamu itu? tiba-tiba wajah rupawanmu diganti menjadi buruk rupa, kekayaanmu dicabut hingga kau miskin, rumahmu terbakar hingga tidak ada tempat untukmu tinggal, kakimu yang kokoh Allah patahkan hingga membuatmu pincang? Masihkah engkau protes?
Yang lebih ironinya adalah, ketika kita merasa telah lebih dari pada orang lain. Dengan mudahnya kita menghina keburukan wajah orang lain, dengan mudahnya kita merendahkan derajatnya perkara kebodohannya dan kemiskinannya? Sadarkah ketika engkau membicarakan keburukannya di depan orang lain sementara Allah selalu menutupi keburukanmu di hadapan manusia?
Menurut Al Ghazali, bahwa ketika Allah mengenalkan diriNya dengan Al-Ghaffar ada tiga hal yang ia tutupi bagi hambaNya. Pertama, yang ditutupi oleh Allah dari hambaNya adalah sisi dalam jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata. Ini ditutupiNya dengan keindahan lahiriah. Kedua, yang ditutupi Allah adalah adalah bisikan hati dan kehendak-kehendak manusia yang buruk. Juga, Allah menutupi masa lalu seseorang yang gelap, sehingga tak seorangpun yang tahu. Atau, Allah akan memberikan sesuatu yang menyebabkan orang lain yang tahu masa lalunya merasa segan dan tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain. Semuanya ia kubur dalam-dalam. Cukup dirinya saja yang mengetahui, orang lain tidak boleh tahu. Bahkan ia merasa bersyukur atas perubahan orang yang pernah tersesat jalan ini.
Ketiga, yang ditutupi Allah adalah dosa dan pelanggaran-pelanggaran manusia, yang seharusnya dapat diketahui umum. Sedemikian besarnya anugerah Allah, sampai-sampai Dia menjanjikan menukar kesalahan dan dosa-dosa itu dengan kebaikan jika yang bersangkutan berupaya untuk kembali kepadaNya.
“Sesungguhnya Allah mengampuni apa-apa yang terdetik dalam hati umatku, selama mereka tidak berbicara atau melakukannya” (HR.Muslim)
Kawan, masihkah engkau merasa lebih baik dibandingkan orang lain?  Masihkah engkau dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata yang mungkin saja menyakiti hati orang lain? Atau engkau merasa pantas melontarkan kata-kata itu untuk mereka? Sebesar mana derajatmu di hadapan Allah dibandingkan mereka? Apakah engkau tidak takut perbuatanmu akan menjerumuskanmu kepada riya’? Naudzubillah.

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. (Q.S Al- Muthaffifin)

 Kepada temanku, sekali lagi aku bersyukur mengenal kalian. Semoga Allah mempertemukan kita di Yaumil Akhir kelak, dengan wajah yang berseri-seri lantaran sebagai ganjaran atas hati yang dulunya selalu tawadhu’, sabar dan ikhlas terhadap semua ketetapan Allah. Aamiin.

1 comment:

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^

Powered by Blogger.